Kejadian ini bermula dari sesuatu yang seharusnya sepele: transaksi jual beli yang jujur. Ioniq 5 miliknya dibeli tunai di sebuah diler Hyundai kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.
Saat proses pembelian, tenaga penjual dengan percaya diri meyakinkan bahwa memarkir mobil secara paralel bukan masalah besar, aman-aman saja untuk unit listrik seperti Ioniq 5.
Ucapan itu keluar begitu mulus, seolah sudah dihafal sebagai skrip closing, tanpa ada indikasi bahwa si penjual benar-benar paham konsekuensi teknis di baliknya.
Belakangan, cerita berbalik seratus delapan puluh derajat dan di sinilah letak masalah sesungguhnya.
Ketika unit bermasalah dan dibawa ke bengkel, teknisi yang sama-sama berbendera Hyundai justru membeberkan fakta yang bertolak belakang total dari janji sales.
Posisi transmisi netral saat parkir paralel rupanya membuat modul kelistrikan tetap menyala, ditambah fitur konektivitas BlueLink yang terus aktif memantau kendaraan dari jarak jauh.
Kombinasi keduanya perlahan menguras daya aki 12V hingga akhirnya benar-benar habis. Dengan kata lain, satu perusahaan yang sama bisa punya dua versi kebenaran, tergantung siapa yang ditanya dan konsumen yang menanggung akibatnya.
"Saya cuma mau tahu, ini salah saya atau salah mereka yang dari awal kasih informasi keliru," begitu kurang lebih inti keluhan yang disampaikan Aa Juju dalam videonya, mewakili kebingungan yang mungkin juga dirasakan pemilik Ioniq 5 lainnya.
Yang membuat publik makin geram bukan cuma soal teknisnya, melainkan bagaimana keluhan itu direspons di lapangan.
Alih-alih segera memberi kejelasan, pihak supervisor diler disebut-sebut justru bersikap defensif di awal pola respons yang, sayangnya, terasa familiar bagi siapa pun yang pernah berurusan dengan komplain di diler resmi mana pun.
Padahal konsumen yang sudah mengeluarkan uang tunai untuk mobil seharga ratusan juta rupiah wajar saja mengharapkan penanganan yang cekatan dan jujur, bukan dilempar-lempar tanggung jawab sampai videonya viral lebih dulu baru ada yang bergerak.
Kasus ini pada akhirnya memaksa Hyundai Motors Indonesia turun tangan, lengkap dengan permintaan maaf resmi dan video klarifikasi dari diler bersangkutan.
Tapi mari jujur: permintaan maaf yang baru muncul setelah tekanan publik memuncak bukan bukti kepedulian, melainkan bukti bahwa mekanisme penanganan komplain internal Hyundai gagal bekerja lebih dulu. Kalau bukan karena video itu viral, sangat mungkin keluhan Aa Juju hanya akan berakhir sebagai laporan yang menguap di meja customer service.
Sebab akar masalahnya bukan sekadar satu oknum sales yang salah bicara, dan Hyundai tampaknya cukup nyaman menyimpan narasi itu agar persoalan terlihat kecil.
Kenyataannya, ini soal bagaimana mobil listrik, dengan segala kerumitan sistem kelistrikannya, dijual dengan pendekatan seadanya seperti menjual mobil bensin biasa.
Kalau pabrikan sebesar Hyundai saja masih membiarkan tenaga penjualnya melempar janji tanpa dasar teknis yang jelas, pertanyaannya sederhana: seberapa serius sebenarnya komitmen mereka pada transisi kendaraan listrik yang selama ini digembar-gemborkan?
Publik berhak menuntut lebih dari sekadar permintaan maaf yang terkesan formalitas. Evaluasi standar pelatihan produk bagi seluruh jaringan tenaga penjual bukan lagi opsi, melainkan keharusan dan Hyundai perlu membuktikannya dengan langkah konkret, bukan cuma video klarifikasi lima menit yang tayang setelah tekanan media sosial memuncak.
Jika tidak, kasus Aa Juju hari ini hanya akan jadi pembuka daftar panjang korban berikutnya.
Posting Komentar