Di hadapan lebih dari 50 siswa jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM), tim Vocational AHM mengupas tuntas product knowledge serta teknologi sepeda motor konvensional terbaru, Honda Vario Street 125.
Tentu, membekali siswa dengan pemahaman produk yang beredar luas di pasaran saat ini adalah langkah yang berguna.
Namun, jika diteliti secara kritis, pengajaran yang masih sangat dominan pada mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) ini berisiko membuat lulusan SMK gagap ketika gelombang disrupsi motor listrik benar-benar menguasai pasar beberapa tahun ke depan.
"Melalui AHBI, kami ingin siswa SMK binaan mendapatkan tambahan wawasan yang aktual sehingga apa yang mereka pelajari di sekolah semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja," ujar Head of TSD PT Wahana Makmur Sejati, Benedictus F. Maharanto.
Bahaya Kurikulum yang Tertinggal Zaman
Siswa SMK yang duduk di bangku sekolah hari ini adalah tenaga kerja yang baru akan mencapai puncak karirnya dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
Pada fase tersebut, lanskap bengkel diproyeksikan bakal didominasi oleh perbaikan komponen baterai, controller, dan motor penggerak listrik (bldc), bukan lagi soal ganti oli atau pembersihan throttle body mesin bensin.
Mengenalkan fitur Vario Street 125 memang menjawab kebutuhan purna jual saat ini.
Namun, jika raksasa otomotif seperti AHM tidak mulai secara masif menyisipkan kurikulum dan alat praktik kendaraan listrik (EV) ke sekolah-sekolah binaannya, maka lulusan vokasi ini dikhawatirkan hanya akan menjadi "generasi transisi" yang masa pakainya sangat pendek di industri.
Tuntutan Adaptasi yang Lebih Cepat
Meskipun demikian, komitmen AHM dan WMS melalui Satu Hati Education Program (SHEP) tetap menjadi angin segar di tengah terbatasnya sarana sekolah.
Kunjungan langsung industri ke ruang kelas minimal berhasil membuka mata para siswa tentang tingginya standar kualitas pabrikan.
"Harapan kami, pendidikan vokasi mampu melahirkan lulusan yang bukan hanya siap bekerja, tetapi memiliki kompetensi untuk bersaing dan beradaptasi di industri roda dua," pukas Benedictus.
Pada akhirnya, sinergi bagi negeri yang sesungguhnya tidak cukup hanya dengan membawa produk terlaris hari ini ke dalam kelas.
AHM dan WMS dituntut berani melangkah lebih jauh: membawa teknologi masa depan ke meja praktik SMK agar para siswa benar-benar siap menghadapi zaman yang berubah, bukan sekadar menjadi mekanik penonton disrupsi.
Posting Komentar