Dalam operasi pertambangan, alat berat bekerja dalam kondisi yang jauh dari ringan. Beban angkut tinggi, jam operasi panjang, temperatur yang terus berubah, debu, dan kontaminan menjadi bagian dari lingkungan kerja sehari-hari.
“Perawatan perlu dilihat bukan hanya sebagai aktivitas untuk memperbaiki alat setelah terjadi kerusakan. Preventive maintenance, pemantauan kondisi alat, dan pengelolaan perawatan yang disiplin menjadi bagian penting untuk menjaga alat berat tetap optimal dan mengurangi risiko unplanned downtime,” ujar Widhi.
Preventive maintenance tidak selalu berarti satu tindakan yang sama untuk setiap unit. Strategi perawatan perlu mempertimbangkan karakter alat berat, usia mesin, riwayat operasi, jenis pekerjaan, jam kerja, hingga kondisi area tambang.
Pada beberapa kondisi, pemeriksaan dapat berfokus pada kualitas pelumas, temperatur mesin, sistem filtrasi, kondisi komponen penting, atau tanda-tanda awal penurunan performa.
Tujuannya adalah menemukan potensi masalah ketika dampaknya masih dapat dikendalikan.
Pendekatan ini berbeda dengan perawatan reaktif. Dalam metode reaktif, alat baru diperiksa atau diperbaiki setelah gangguan muncul.
Jika kerusakan sudah terjadi, pekerjaan yang dibutuhkan bisa lebih kompleks dan waktu henti menjadi lebih panjang.
Bagi perusahaan tambang, setiap jam operasi alat berat memiliki nilai. Mesin yang tersedia dan siap digunakan membantu aktivitas penggalian, pemindahan material, pengangkutan, serta proses pendukung lainnya berjalan sesuai rencana.
Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah mengatakan peningkatan produktivitas tidak selalu harus dilakukan dengan menambah aset baru. Perusahaan juga dapat meningkatkan nilai dari alat yang sudah dimiliki.
“Di tengah tekanan biaya operasional, peningkatan produktivitas tidak selalu berarti menambah aset. Salah satu peluangnya adalah memastikan aset yang sudah dimiliki dapat digunakan secara optimal, tersedia ketika dibutuhkan, dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi bagi perusahaan,” kata Imaduddin.
Pernyataan tersebut relevan ketika industri menghadapi kenaikan dan fluktuasi biaya energi. Perusahaan tambang perlu menyeimbangkan target produksi dengan pengendalian pengeluaran. Dalam situasi ini, menjaga alat tetap andal dapat menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan investasi yang sudah ada.
Castrol melihat pengelolaan pelumasan sebagai bagian dari preventive maintenance. Pelumas yang sesuai kebutuhan mesin, dipantau kondisinya, dan diganti pada interval yang tepat dapat membantu menjaga kebersihan serta kinerja komponen internal.
General Manager B2B Castrol Indonesia Troy Howard mengatakan keandalan alat berat perlu dibangun melalui tindakan pencegahan yang konsisten.