WIRAWANJakarta - Ketika suara mesin meraung dan para pembalap melesat melewati garis start, perhatian hampir seluruhnya tertuju pada lintasan. Namun, ada cerita lain yang berlangsung jauh dari sorotan kamera.
Di balik setiap gelaran balap di Pertamina Mandalika International Circuit, ada pekerjaan yang tidak mengenal lampu start. Sirkuit sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan itu harus terus dipastikan dalam kondisi siap, bahkan ketika tidak ada balapan besar yang berlangsung.
Catatan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) menunjukkan, sepanjang 2025 sirkuit yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, digunakan selama 270 hari untuk berbagai kegiatan.
Angka tersebut menunjukkan betapa padatnya aktivitas di fasilitas motorsport yang menjadi salah satu ikon olahraga otomotif Indonesia tersebut.
Mandalika memang dikenal sebagai tuan rumah ajang internasional seperti MotoGP dan Asia Road Racing Championship. Tetapi di luar dua event tersebut, berbagai kegiatan motorsport nasional juga mengisi kalender sirkuit.
Dengan frekuensi penggunaan yang tinggi, pekerjaan menjaga sirkuit tentu tidak bisa dilakukan hanya ketika perlombaan sudah berada di depan mata.
“Kesiapan tidak hanya dibutuhkan ketika event berlangsung, tetapi juga dalam proses persiapan dan pemeliharaan sehari-hari,” ujar Donny Mahardjono, Direktur Operasional MGPA.
Di sinilah sisi Mandalika yang jarang terlihat publik mulai terungkap.
Bukan Sekadar Membersihkan Lintasan
Sirkuit balap bukan hanya soal aspal dan garis pembatas. Ada standar keselamatan yang harus dipertahankan agar fasilitas mampu digunakan sesuai kebutuhan kompetisi.
Federasi Internasional Sepeda Motor atau FIM menetapkan berbagai standar yang harus dipenuhi. Kondisi lintasan, run-off area, perangkat keselamatan, hingga fasilitas pendukung menjadi bagian yang harus mendapatkan perhatian.
Karena itu, pemeliharaan tidak cukup dilakukan beberapa hari sebelum pembalap datang.
Berbagai pekerjaan teknis berlangsung secara rutin. Kendaraan operasional harus siap digunakan, peralatan harus berfungsi, dan kondisi fasilitas harus terus dipantau.
Pekerjaan tersebut juga membutuhkan peralatan yang sesuai dengan karakter pekerjaan profesional di lingkungan motorsport.
Mulai dari cordless tools, impact wrench, hingga grinder digunakan untuk kebutuhan perawatan kendaraan. Sementara itu, thermal camera dan inspection camera membantu teknisi menemukan kondisi tertentu yang tidak selalu dapat terlihat secara langsung.
Urusan kebersihan pun tidak bisa dianggap sepele.
Pressure washer, blower, dan industrial vacuum digunakan untuk menjaga kendaraan serta area kerja tetap bersih. Pemeriksaan terhadap komponen kendaraan seperti aki dan wiper juga menjadi bagian dari rutinitas untuk memastikan kendaraan operasional dapat digunakan kapan saja.
Dengan kata lain, ketika publik melihat sirkuit dalam kondisi siap menyambut balapan, sebenarnya ada rangkaian pekerjaan panjang yang sudah dilakukan sebelumnya.
Bosch Ikut Masuk ke Balik Layar
Kebutuhan teknis yang cukup kompleks tersebut kemudian membuka ruang kolaborasi antara MGPA dan Bosch Indonesia.
Melalui lini Bosch Power Tools dan Bosch Mobility Aftermarket, Bosch mendukung kebutuhan pekerjaan teknis dan operasional di lingkungan sirkuit.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa dunia motorsport tidak hanya membutuhkan kendaraan dan pembalap. Ekosistem di belakangnya juga membutuhkan peralatan yang mampu mengikuti tuntutan pekerjaan dengan tingkat penggunaan tinggi.
Fenny Sofyan, Country Head of Corporate Communications & Government Relations Bosch Indonesia, melihat kebutuhan tersebut sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung.
“Kami melihat kebutuhan di lingkungan automotive sebagai satu ekosistem yang saling terhubung,” ujar Fenny.
Menurutnya, keandalan dan daya tahan peralatan menjadi bagian penting ketika perangkat tersebut digunakan untuk mendukung pekerjaan di lingkungan otomotif.
Bagi tim MGPA, dukungan teknologi yang tepat juga bukan sekadar soal membuat pekerjaan menjadi lebih cepat.
Peralatan yang sesuai dapat membantu teknisi menjalankan tugas secara lebih aman dan efisien, terutama ketika berbagai pekerjaan harus dilakukan secara rutin di tengah padatnya aktivitas sirkuit.
Saat Kamera Mati, Pekerjaan Justru Berjalan
Menariknya, sebagian besar pekerjaan tersebut justru berlangsung ketika tidak ada pembalap yang menjadi pusat perhatian.
Tidak ada sorakan penonton. Tidak ada lampu start. Tidak ada podium dan selebrasi.
Tetapi kendaraan operasional tetap harus diperiksa. Peralatan tetap harus dirawat. Fasilitas keselamatan tetap harus dipastikan kondisinya. Dan lintasan tetap harus dipersiapkan untuk aktivitas berikutnya.
Dengan penggunaan sirkuit mencapai 270 hari sepanjang 2025, pekerjaan di belakang layar tersebut jelas bukan aktivitas sesekali.
Itulah sebabnya kesiapan Mandalika tidak bisa dibangun secara instan.
Ketika akhirnya lampu start menyala dan perhatian publik kembali tertuju kepada para pembalap, pekerjaan panjang yang dilakukan para teknisi dan tim operasional mungkin tidak terlihat
.
Namun, justru dari pekerjaan yang nyaris tidak mendapatkan sorotan itulah sebuah balapan dapat berlangsung.
Di Mandalika, cerita tentang kecepatan ternyata tidak hanya ditulis oleh pembalap yang melaju di atas
lintasan.
Sebagian ceritanya sudah dimulai jauh sebelumnya—oleh orang-orang yang bekerja dalam diam, memastikan setiap kendaraan, peralatan, fasilitas, dan area sirkuit siap ketika waktunya tiba.
Dan ketika 270 hari aktivitas harus dijaga dalam satu tahun, pekerjaan di balik layar itu bukan lagi sekadar pendukung balapan.
Itulah bagian dari balapan yang tidak pernah masuk kamera.(
*)