Tapi sebelum konsumen buru-buru tergiur, ada baiknya menelaah lebih dalam apakah deretan angka ini benar-benar mencerminkan pengalaman berkendara yang akan mereka dapatkan sehari-hari.
Klaim jarak tempuh 600 km sendiri diukur menggunakan standar CLTC, metode pengujian yang selama ini kerap disorot komunitas otomotif karena hasilnya cenderung jauh lebih tinggi dibanding kondisi berkendara aktual.
Berbeda dengan standar WLTP yang lebih ketat memperhitungkan variabel dunia nyata, CLTC lebih sering dianggap sebagai angka "idealis" yang sulit direplikasi begitu mobil dihadapkan pada kemacetan Jakarta, tanjakan, atau penggunaan AC secara terus-menerus.
"Setiap konsumen memiliki kebutuhan mobilitas yang berbeda, sehingga kami melihat pentingnya menghadirkan kendaraan listrik yang dapat memberikan pengalaman berkendara tanpa banyak kompromi," ujar Temmy Wiradjaja, Vice Country Director LEPAS Indonesia, saat memperkenalkan produk ini.
Klaim fast charging pun tak kalah menarik untuk dikritisi. Pengisian dari 30 ke 80 persen dalam sekitar 20 menit lewat DC Fast Charging 130 kW memang terdengar praktis, tapi angka semacam ini biasanya didapat dalam kondisi laboratorium yang ideal suhu baterai optimal, charger dalam kondisi prima, tanpa antrean.
Di lapangan, ekosistem pengisian daya cepat di Indonesia masih jauh dari merata, sehingga waktu pengisian riil berpotensi molor dari klaim yang dipromosikan.
Yang juga patut dicermati, LEPAS turut menyertakan data GAIKINDO dan survei PwC eReadiness 2025 dalam materi promosinya, seolah ingin membangun kesan bahwa produk mereka menjawab persis apa yang diinginkan pasar.
Padahal, mengutip data preferensi konsumen bukan berarti otomatis membuktikan produk tersebut memenuhi ekspektasi itu secara nyata dua hal yang seharusnya tidak disamakan begitu saja dalam strategi pemasaran.
Soal ketahanan, rating IP68/IPX9K dengan wading depth 525 mm terdengar meyakinkan, tapi catatan kecil dari perusahaan sendiri yang mengingatkan pengemudi untuk tetap berhati-hati saat melewati genangan justru menyiratkan bahwa klaim ini bukan jaminan mutlak, terlebih menghadapi banjir dengan kedalaman tak menentu seperti yang lazim ditemui di sejumlah kota besar Indonesia saat musim hujan.
Dari sisi performa, tenaga 160 kW dan akselerasi 0–100 km/jam dalam 7,2 detik memang tampak menjanjikan, ditambah klaim efisiensi motor listrik hingga 90,8 persen.
Namun sekali lagi, angka-angka semacam ini umumnya hanya tercapai dalam skenario pengujian terkendali, bukan cerminan langsung dari kondisi jalan yang penuh ketidakpastian.
Dengan paket garansi kendaraan 6 tahun dan baterai 8 tahun sebagai pemanis tambahan, LEPAS E4 EV memang berusaha tampil sebagai paket lengkap dengan harga yang terjangkau.
Tapi pada akhirnya, konsumen tetap perlu bersikap kritis dan menunggu bukti nyata di jalan Indonesia, sebelum sepenuhnya yakin bahwa transisi dari "range anxiety" menuju "range confidence" yang digaungkan LEPAS benar-benar terwujud, bukan sekadar jargon pemasaran belaka.(*)