Tapi format semacam itu perlahan bergeser, dan WARI Expo 2026 yang digelar di Alun-alun Curug, Tangerang, jadi salah satu contoh paling gamblang dari pergeseran tersebut.
Acara yang diselenggarakan PT WahanaArtha Ritelindo sejak 30 Agustus hingga 6 September ini memang tetap menawarkan promo penjualan sebagai daya tarik utama DP sepeda motor Honda mulai Rp600 ribu jadi headline yang paling gampang menarik perhatian calon pembeli.
Tapi di luar itu, porsi acara yang tidak berkaitan langsung dengan transaksi jual-beli justru terasa cukup dominan.
Ada perlombaan yang bisa diikuti pengunjung, sesi cek kesehatan gratis, kelas pound fit untuk yang peduli kebugaran, sampai live music yang digelar setiap hari sepanjang acara berlangsung.
Kombinasi semacam ini jelas jauh dari citra pameran motor konvensional, dan lebih mendekati konsep festival komunitas atau acara keluarga akhir pekan pada umumnya.
Felix Gusman, Region Head Area 2 PT WahanaArtha Ritelindo, secara terbuka menyebut alasan di balik pendekatan ini.
"WARI Expo 2026 kami hadirkan untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dan menyenangkan bagi masyarakat," ujarnya, menegaskan bahwa tujuan acara bukan cuma soal closing penjualan semata, melainkan juga membangun kedekatan dengan calon konsumen lewat pengalaman yang menyenangkan.
Strategi menggabungkan unsur hiburan dengan aktivitas komersial semacam ini sebenarnya bukan barang baru di dunia marketing, tapi penerapannya di sektor otomotif khususnya level dealer regional seperti WARI menunjukkan bagaimana persaingan merebut perhatian konsumen semakin ketat.
Ketika hampir semua dealer menawarkan skema DP ringan dan cicilan bersaing, diferensiasi lewat pengalaman berkunjung jadi salah satu cara membedakan diri dari kompetitor yang menjual produk serupa.
Namun pendekatan ini juga punya risiko tersendiri. Ada kemungkinan pengunjung datang murni untuk menikmati live music, ikut lomba, atau memanfaatkan cek kesehatan gratis, tanpa niat serius membeli motor sama sekali.
Kalau proporsi pengunjung "hiburan doang" ini terlalu besar dibanding calon pembeli sungguhan, efektivitas acara dalam mendongkrak angka penjualan riil bisa jadi tidak sebanding dengan biaya penyelenggaraan yang dikeluarkan, mengingat menggelar live music harian dan berbagai aktivitas tambahan jelas membutuhkan anggaran yang tidak kecil.
Di sisi lain, kalau dilihat dari perspektif jangka panjang, membangun kedekatan emosional dengan calon konsumen lewat pengalaman positif juga punya nilai tersendiri yang sulit diukur langsung dalam angka penjualan jangka pendek.
Pengunjung yang pulang dengan kesan menyenangkan, meski belum membeli motor saat itu juga, berpotensi kembali di lain waktu atau merekomendasikan acara serupa ke orang lain di sekitarnya.
Terlepas dari perdebatan soal efektivitasnya, format pameran hybrid semacam ini tampaknya bakal makin sering dijumpai ke depan, mengingat kompetisi menarik perhatian konsumen di tengah banjir promosi otomotif memang menuntut cara-cara yang lebih kreatif ketimbang sekadar memasang banner diskon di depan showroom.(*)