Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi bagi pengendara sepeda motor yang sedang mengejar waktu, keputusan untuk menepi sering kali tidak mudah dilakukan.
Padahal ketika abu vulkanik mulai membuat pandangan terganggu dan permukaan jalan berubah licin, memaksakan perjalanan justru dapat memperbesar risiko kecelakaan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian PT Wahana Makmur Sejati (WMS), Main Dealer sepeda motor Honda wilayah Jakarta-Tangerang. Melalui tim Safety Riding Promotion (SRP), WMS mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika melakukan mobilitas di wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia kembali membuat kondisi lingkungan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan oleh pengguna jalan. Abu yang terbawa angin dapat menyebar ke area yang cukup jauh dari sumber erupsi.
Abu dapat mengganggu mata dan membuat pandangan tidak nyaman. Ketika konsentrasi menurun dan jarak pandang berkurang, kemampuan pengendara membaca kondisi di depan juga ikut terdampak.
Di sisi lain, abu yang menempel pada permukaan jalan berpotensi mengurangi daya cengkeram ban. Kondisi ini membuat pengereman, akselerasi maupun manuver membutuhkan perhatian lebih.
Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menegaskan bahwa kemampuan berkendara harus dibarengi dengan kemampuan membaca risiko.
“Keselamatan berkendara bukan hanya ditentukan oleh skill, tetapi juga bagaimana pengendara memitigasi dan membaca risiko kecelakaan yang diakibatkan kondisi lingkungan,” ujar Agus.
Karena itu, WMS mendorong pengendara menurunkan kecepatan ketika melintasi jalan yang terdampak abu. Kecepatan yang lebih rendah memberikan ruang bagi pengendara untuk mengantisipasi kondisi jalan sekaligus menjaga sepeda motor tetap terkendali.
Jarak dengan kendaraan di depan juga perlu diperpanjang. Pengendara jangan terlalu dekat karena kondisi permukaan jalan yang licin dapat membuat jarak pengereman menjadi lebih sulit diprediksi.
Selain itu, hindari pengereman maupun perubahan arah secara mendadak. Lakukan pengereman secara bertahap dan kendalikan setang dengan gerakan yang halus.
Dari sisi perlindungan diri, helm dengan visor tertutup menjadi perlengkapan penting untuk membantu mencegah abu masuk ke mata. Visor juga perlu dipastikan dalam kondisi bersih agar tidak menambah gangguan visual.
Masker dengan filtrasi baik seperti N95 juga disarankan untuk membantu mengurangi paparan partikel abu yang terhirup.
Namun, semua perlengkapan tersebut bukan berarti pengendara harus tetap melanjutkan perjalanan dalam kondisi ekstrem.
Jika abu semakin pekat hingga jarak pandang terganggu, WMS meminta pengendara segera mencari lokasi aman untuk berhenti dan berlindung di area tertutup apabila memungkinkan.
“Apalagi paparan abu vulkanik yang terbawa angin begitu pekat, jangan terburu-buru serta jangan memaksakan perjalanan jika tidak memungkinkan,” kata Agus.
Inilah bagian penting dari #Cari_Aman. Keselamatan bukan soal membuktikan bahwa perjalanan tetap bisa dilakukan dalam kondisi apa pun. Sebaliknya, pengendara perlu berani mengambil keputusan ketika risiko sudah terlalu besar.
Lebih terlambat sampai tujuan masih jauh lebih baik dibandingkan harus menghadapi kecelakaan akibat memaksakan perjalanan.
Dalam situasi abu vulkanik, kewaspadaan menjadi bagian dari kemampuan berkendara. Jaga diri, jaga sesama dan utamakan keselamatan sebelum melanjutkan perjalanan.****